BRMP Gorontalo Hadiri Forum Konsolidasi Teknis Mitigasi Kekeringan Tahun 2026
GORONTALO – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Gorontalo terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung upaya mitigasi potensi bencana kekeringan melalui penerapan modernisasi pertanian dan teknologi hemat air. Komitmen tersebut disampaikan saat mengikuti Forum Konsolidasi Teknis Antisipasi dan Penanganan Potensi Bencana Kekeringan Provinsi Gorontalo Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Gorontalo pada Selasa (21/7/2026). Pada kegiatan tersebut, Kepala Balai Besar BRMP Gorontalo diwakili oleh Ir. Nitam Kasim, S.P., selaku Ketua Tim Kerja Pendampingan Program Wilayah I.
Forum dihadiri oleh unsur pemerintah daerah, instansi vertikal, serta para pemangku kepentingan di bidang sumber daya air, pertanian, dan penanggulangan bencana sebagai bagian dari penguatan koordinasi dalam menghadapi potensi kekeringan selama musim kemarau tahun 2026. Kegiatan ini menjadi wadah untuk menyamakan langkah antarlembaga dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian sekaligus menjamin ketersediaan air bagi masyarakat.
Berdasarkan paparan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Gorontalo, Provinsi Gorontalo diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang cukup ekstrem akibat pengaruh El Niño berkategori kuat. Curah hujan pada periode Juli hingga September 2026 diproyeksikan berada di bawah kondisi normal sehingga diperlukan langkah antisipatif untuk meminimalkan dampaknya terhadap sektor pertanian, ketersediaan air bersih, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.
Menanggapi kondisi tersebut, BRMP Gorontalo memaparkan berbagai strategi Kementerian Pertanian dalam menghadapi ancaman kekeringan melalui penerapan modernisasi pertanian. Strategi tersebut meliputi percepatan Gerakan Pompanisasi, penggunaan varietas padi toleran kekeringan seperti Inpari, Inpago, dan Situbagendit, optimalisasi embung, long storage, sumur bor, serta pemanfaatan sumber air alternatif untuk mendukung keberlanjutan usaha tani pada musim kemarau.
Selain itu, BRMP Gorontalo juga mendorong percepatan implementasi Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) melalui penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau sistem pengairan berselang. Teknologi tersebut mampu menghemat penggunaan air irigasi sekitar 30–50 persen tanpa mengurangi produktivitas tanaman, sehingga menjadi salah satu inovasi strategis Kementerian Pertanian dalam mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya air pada budidaya padi.
Dalam sesi diskusi, Ir. Nitam Kasim menegaskan bahwa keberhasilan mitigasi kekeringan memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan petani. Menurutnya, penerapan teknologi pertanian modern harus diiringi dengan penguatan koordinasi, pendampingan di lapangan, serta pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim.
Forum konsolidasi tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan pemantauan wilayah rawan kekeringan, mengoptimalkan pengelolaan jaringan irigasi, memperbarui pemetaan daerah terdampak, serta memperluas penerapan teknologi pertanian hemat air. BRMP Gorontalo juga menegaskan dukungannya terhadap implementasi berbagai program strategis Kementerian Pertanian, termasuk Gerakan Pompanisasi, penggunaan varietas unggul toleran kekeringan, optimalisasi sumber daya air, dan percepatan penerapan PM-AAS sebagai bagian dari transformasi menuju pertanian modern.
Melalui kolaborasi yang erat antara BRMP Gorontalo, Balai Wilayah Sungai Sulawesi II, pemerintah daerah, BMKG, penyuluh pertanian, dan seluruh pemangku kepentingan, diharapkan berbagai langkah mitigasi yang telah disepakati mampu menjaga keberlanjutan produksi pertanian, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim.